SEMPAT SINGGAH
Tahun
2019 merupakan tahun yang menyibukkan untuk ayahnya Menglin. Pemimpin
perusahaan tempat kerja ayahnya Menglin memintanya untuk mengawasi dan memimpin
proyek perusahaan yang ada di Purworejo. Hal ini membuat Menglin dan sekeluarga
harus pindah ke Purworejo untuk sementara agar mereka tetap bisa tinggal
bersama.
“Purworejo?
Apakah itu jauh?”, tanya Menglin kepada ayahnya.
“Lumayan
jauh. Tapi ayah pikir Menglin akan betah di sana”, jawab sang ayah.
Kehidupan
di Jakarta yang padat membuat Menglin
terkadang merasa lelah. Tahun ini, ia menginjakkan kaki di kelas 2 SMP. Karena
harus pindah rumah, ia juga harus pindah sekolah di Purworejo. Awalnya ia tidak
mau pindah, tetapi karena penasaran dengan kehidupan di kota kecil itu seperti
apa.
Hari
ini Menglin dan sekeluarga sedang sibuk mengurus kepindahannya. Bahkan Menglin
menemui teman-temannya karena pasti akan lama bertemu kembali. Saat itu,
Menglin melihat sang ayah sangat serius mengurus surat-surat atau apapun itu
yang ada di meja kerjanya. Menglin pun ikut membantu sang ibu membereskan
pakaian-pakaian dan memasukkannya ke dalam mobil.
“Menglin,
ayah sudah selesai mengurus kepindahan kamu. Tenang saja, ada teman ayah di
sana. Dia memiliki anak seumuran kamu dan akan satu sekolah. Jadi kamu tidak
usah khawatir”. Ujar sang ayah.
“Siapa
namanya, yah?”, tanya Menglin dengan wajah penasaran.
“Namanya
Fifah. Dia seorang muslim. Walaupun kita berbeda, kita Tionghoa dan mereka itu
Islam, kita harus saling toleransi. Lihatlah, ayah sudah berteman baik dengan
ayahnya Fifah selama puluhan tahun”, jelas sang ayah.
“Baik,
ayah. Menglin pasti bisa berteman baik dengan Fifah”.
Mendengar
hal itu, Menglin menjadi tambah penasaran dan tidak sabar untuk segera pindah.
Ia antusias akan lingkungan baru dan teman baru, bahkan ini pertama kali bagi
Menglin untuk mempunyai teman yang beda keyakinan.
Mengetahui
sang ayah dan ayahnya Fifah berteman baik selama puluhan tahun, menyadarkan
Menglin akan indahnya toleransi antarbeda keyakinan. Karena selama ini Menglin
hanya memiliki teman dengan keyakinan yang sama.
Sudah
siap, barang-barang yang akan dibawa ke Purworejo. Mereka bergegas untuk pergi
menuju Bandara Soekarno-Hatta dan akan mendarat di Bandara Adi Sucipto,
Yogyakarta. Tidak terlalu memakan waktu yang lama di pesawat namun mereka
terlihat lelah dan harus memesan hotel untuk singgah semalam saja.
Keesokan
harinya, di hari yang cerah itu, mereka bergegas menuju Purworejo menggunakan
transportasi kereta api, murah dan nyaman. Sekitar satu setengah jam kemudian
tiba di Purworejo.
Hari
pertama di Purworejo, Menglin merasa heran dan senang karena tidak terlalu
padat dan tidak ada kemacetan. Sore itu, ada tamu yang datang ke rumahnya.
Mereka adalah keluarganya Fifah. Ayah sangat senang karena sudah beberapa tahun
tidak bertemu ayahnya Fifah. Keluarganya Fifah bertamu dengan membawa beberapa
cemilan yang katanya itu adalah makanan khas Purworejo.
“Ini
kami membawa makanan khas Purworejo sebagai ucapan selamat datang.” Ucap Fifah
dengan ramah.
“Wahh…
tidak usah repot-repot. Terima kasih banyak ya mba Fifah.”
“Ini
namanya apa ya? Kok kelihatannya enak.”, tanya Menglin penasaran.
“Ini namanya geblek bumbu. Dibuat dari pati
dan bumbunya dari kacang, seperti bumbu pecel.”, jawab Fifah. Lalu Menglin
mencoba menciicpi geblek bumbu tersebut. Terlihat bahwa dia menikmatinya dan
ketagihan untuk makan terus.
“Enak
ya yah, bu. Makasih ya Fif.”, ucap Menglin.
Pertama
kalinya Menglin bertemu dengan seorang muslim dan dia sangat penasaran dengan
apa yang Fifah kenakan di kepala.
“Apa
itu yang kamu kenakan di kepalamu?”, tanya heran si Menglin.
“Ini
namanya hijab. Sebagai seorang muslim diwajibkan untuk menutup aurat, yaitu
dengan menggunakan hijab.”, jawab Fifah.
“Ohiya
tadi bulum perkenalan. Namaku Zhang Menglin. Panggil saja Menglin.”, ucap
Menglin sambil mengajak Fifah bersalaman.
“Hai
Menglin, semoga kamu betah disini. Ohiya, kudengar kamu mau pindah ke SMP Tunas
Bangsa, ya?”, tanya Fifah.
“Iya,
kita akan satu sekolah ya? Wah seru. Kita bisa berangkat dan pulang sekolah
bersama-sama.”, jawab Menglin dengan antusias.
Hari
pertama masuk sekolah, Menglin dan Fifah berangkat ke sekolah bersama-sama
dengan berjalan kaki karena jarak ke sekolah tidak jauh dari rumah. Menglin
sangat senang karena udaranya yang sejuk dan sejak sekolah dasar, ia tidak
berjalan kaki saat ke sekolah sehingga disini ia memiliki pengalaman baru.
Karena
duduk satu bangku, Menglin dan Fifah menjadi tambah dekat. Saat istirahat,
Fifah mengajak Menglin untuk berkeliling sekolah.berhari-hari. Sejak pindahnya
Mrnglin ke sekolah tersebut, Menglin dibuat penasaran oleh salah satu ekstrakurikuler yang ada di sekolah tersebut,
yaitu tari dolalak. Saat pertama kali melihatnya, Menglin merasa ingin belajar
tarian terebut.
Kebetulan
sekali, di dekat rumahnya Fifah ada sebuah sanggar tari yang memang terkenal
memiliki merid-murid sanggar yang handal. Fifah ingin menjadi bagian di sanggar
tari tersebut namun ia harus meminta izin kepada kedua orangtuanya terlebih
dahulu.
“Masuk
ke sanggar tari?”, ayah dan ibunya Menglin sontak kaget.
“Iya
yah, bu. Menglin ingin belajar tari tradisional mulai sekarang.”, ucap Menglin
dengan sungguh-sungguh.
“Kenapa
tiba-tiba seperti itu?”, tanya ayah Menglin penasaran.
“Menglin
tertarik buat belajar tarian khas Purworejo, tari dolalak namanya. Fifah juga
masuk di sanggar itu kok yah, bu. Jadi nanti bisa berangkat bersama.”, ujar
Menglin untuk meyakinkan ayah dan ibunya.
“Kamu
serius? Ayah tidak mau jika saat sudah dimasukkan ke sanggar itu lalu baru
beberapa pertemuan saja kamu sudah tidak betah, kemudian mengeluh.”, ujar sang
ayah memastikan.
“Tidak
ayah. Menglin serius mau belajar. Menglin ingin punya pengalaman baru disini.”,
ucap Menglin dengan yakin.
Akhirnya,
Menglin pun diizinkan untuk mengikuti sanggar tari tersebut. Ia sangat senang
bisa memiliki pengalaman baru. Lalu ia segera memberi tahu Fifah agar ia segera
didaftarkan sebagai murid di sanggar tari tersebut.
Saat
di Jakarta, seusai pulang sekolah, biasanya Menglin akan langsung pulang ke
rumah atau main ke rumah teman-temannya. Tapi sekarang berbeda. Semenjak kenal
dengan Fifah, Menglin menjadi rajin belajar dan berkegiatan di sekolah.
Ayah
Menglin sesekali heran. Menglin yang biasanya pemalas itu sekarang mau
mengikuti sanggar tari dengan bermodalkan agar memiliki pengalaman baru.
Menglin yang biasanya main ke rumah teman-temannya dan jarang sekali melihatnya
karena ia sibuk bekerja. Sekarang, setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, Menglin
harus pergi ke sanggar tari. Ayah Menglin senang karena Menglin dapat
beradaptasi dengan cepat di lingkungan Purworejo ini.
Tak
terasa sudah 2 bulan Menglin menjadi murid di sanggar tari “Nusantara”
tersebut. Menglin yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang menari, sekarang dia
sudah hafal dan tahu cara menari dolalak dengan benar.
“Ayah,
Ibu, akan ada acara saat malam tahun baru besok, dan ada penampilan tari
dolalak dari semua murid di sanggar.”, ujar Menglin saat usai makan malam.
“Oh
ya? Wah.. anak Ibu mau tampil nari untuk pertama kalinya. Apakah kamu gugup?,
tanya ibu dengan iseng.
“Tidak
sama sekali bu. Menglin sangat antusias dan tidak sabar untuk tampil. Selama
ini Menglin latihan lancar-lancar saja walaupun waktu di awal sedikit sulit
untuk belajar dasar-dasarnya. Tapi berkat usaha dan bantuan Fifah juga Menglin
sekarang bisa menari dengan baik.”, jawab Menglin dengan percaya diri.
Malam
itu, Menglin menghidupkan handphone-nya. Ia mau mengabari teman-temannya yang
ada di Jakarta bahwa ia sangat betah tinggal di Purworejo dan belajar banyak
sejak tinggal disini. Teman-temannya pun terlihat tidak yakin dengan apa yang
Menglin barusan katakan karena Menglin terkenal dengan jiwa pemalasnya.
Dan
bahkan mereka juga kaget saat mendengar bahwa seorang Menglin belajar tari
tradisisonal. Mereka ingin melihat
Menglin saat tampil tetapi mereka tidak bisa datang.
“Kami
ingin sekali lihat kamu secara langsung, tetapi tidak bisa.”, ucap salah satu
temannya.
“Sepertinya
pihak sanggar akan melakukan live IG saat aku tampil besok.”, ucap Menglin.
“Serius?
Wah.. aku benar-benar tidak sabar untuk melihatnya.”, sahut teman Menglin yang
lain.
2
bulan merupakan waktu yang singkat bagi Menglin yang baru belajar tari dolalak
untuk pertama kalinya. walaupun sedikit telat untuk masuk sanggar dan
bergabung, namun untungnya Menglin dapat mengikuti dengan baik. Ada sekitar
waktu 2 minggu untuk persiapan penampilan di ruang terbuka. Semua murid sanggar
sangat antusias dalam mempersiapkannya.
Hari
itu, malam Rabu, 31 Desember 2019 adalah malam terakhir dari tahun 2019.Menglin
merasa bangga terhadap dirinya, karena dalam jangka satu tahun, ia bisa
menikmati berbagai pengalaman yang secara perlahan mengubah pribadinya menjadi
lebih baik.
Waktu
menunjukkan pukul 8 malam. Sedangkan sanggar tarinya tampil pada pukul 9 malam
nanti. Menglin dan Fifah menjadi sedikit gugup karena ini pertama kalinya
mereka tampil.saat penampilan dari jaran kepang telah usai, kini giliran tari
dolalak tampil. Satu-persatu memasuki panggung dan telah bersiap.
Pihak
panitia pun tidak lupa akan melakukan live IG untuk setiap penampilan. Ayah pun
membagikan link tersebut agar teman-teman Menglin yang ada di Jakarta bisa
melihat penampilannya. Menglin terlihat sedikit gugup. Akan tetapi, malam ini
ia sangat bahagia dan sangat dinantikan oleh Menglin. Ia tampil saat penampilan
jaran kepang telah usai. Saat sudah selesai tampil, ia sangat senang karena ia
dapat menampilkan dengan maksimal.
Tak
terasa telah 2 tahun, Menglin dan sekeluarga tinggal di Purworejo. Banyak hal
baik yang menghampiri mereka selama tinggal di sana. Sekarang, waktunya mereka
harus pamit kembali ke Jakarta karena proyek di Purworejo sudah rampung.
Terutama mereka berpamitan dengan keluarganya Fifah karena selama ini telah
banyak membantu keluarganya Menglin. Menglin sedih karena ia sudah betah dan
pasti akan lama tidak berjumpa lagi dengan Fifah.
Komentar
Posting Komentar